SELAMAT DATANG DI BLOGGER SAYA http://warta-wirti.blogspot.co.id/ TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG by ALEXYNET

Sunday, February 21, 2016

Mencintai dia yang kini tak lagi sempurna

Kehilangan seseorang, bukan hanya ditinggal pergi atau wafat. Namun juga bisa karena mengalami suatu musibah, dan orang yang kita sayangi itu menjadi cacat atau trauma. Hal ini akan terasa amat berat, jika kita tak membekali diri sendiri.


  • Saya cukup tersentak saat mendengar teman saya mengalami kecelakaan mobil yang cukup berat. Dan menyedihkan sekali saat melihatnya kini kehilangan satu kaki dan terbaring lemah tak berdaya. Sentakan yang lebih keras terjadi ketika mendengar istrinya mengatakan; "Saya sudah memersiapkan diri akan kematiannya, karena setelah kecelakaan ia sempat koma 2 hari. Saya belum mempersiapkan untuk dirinya yang kini cacat. Bagaimana caranya ya?"
    Iya, bagaimana sebetulnya cara menerima kenyataan bahwa orang yang kita cintai kini berada dalam keadaan cacat? Apakah kita bisa tetap menerima segala keadaannya, dan bahkan tetap mencintainya? Apalagi kini, kita lah satu-satunya tumpuan utama dia untuk bisa tetap menjalani hidup dengan besar hati. Sulit, pasti. Apa pun kejadiannya, pasti menyisakan trauma dan tantangan besar bagi si korban maupun kita sebagai "perawat" nya. Namun, segala kesulitan pasti datang sepaket dengan caranya, kan? Mungkin ini beberapa hal yang bisa kita coba:
  • Berdukalah dengan cara kita sendiri, dengan batas waktu yang kita tentukan sendiri

    Tak ada standar batas waktu untuk berduka. Maka, tak perlu memaksakan diri untuk mampu menghilangkan duka jika memang belum berlalu. Setiap orang pasti punya caranya sendiri, maka biarkanlah rasa duka itu hingga berganti menjadi rasa ikhlas.
  • Temukan Hikmahnya

    Rasa kehilangan dan sedih, mungkin akan terus terasa. Namun ini bukan melulu soal itu. Fokuskan saja pada mencari cara agar cinta tetap ada. Artinya terus memupuk rasa dengan selalu mengingat alasan mengapa kita menyayanginya, dan mencari arti hubungan antara kita dengannya. Temukan hikmah dari segala kejadian, dan sekali lagi, setiap kita pasti punya cara masing-masing dalam melakukan ini.
  • Sesuaikan ekspektasi

    Terus menerus membandingkan diri dengan orang lain, hanya akan menyisakan kekecewaan. Si kesayangan Anda ini mungkin takkan bisa lagi memenuhi cita-citanya untuk terbang sampai ke bulan, namun percayalah ia pasti akan memperoleh pencapaiannya sendiri. Rayakan setiap kemajuannya, dan berikan semangat. Ingatlah, hanya Anda yang dimilikinya.
  • Sesuaikan rumah Anda

    Dengan kondisinya yang kini serba kekurangan, maka ia akan mengalami kesulitan untuk melakukan hal-hal yang orang normal lain dapat lakukan. Misalnya naik tangga, atau meraih sesuatu yang tinggi. Berikan kemudahan-kemudahan, atau alat bantu yang bisa dipasang di rumah. Ini akan membantunya merasa mampu melakukan yang orang lain bisa lakukan. Memupuk kembali rasa percaya diri dan kemandiriannya. Lagipula, ini juga akan meringankan tugas Anda kan? Dan jelas akan menghindari konflik, karena Anda kelelahan harus melakukan segalanya untuk dia, dan dia merasa tak berdaya.
  • Terima segala tawaran bantuan

    Jika ada pihak-pihak yang menawarkan diri untuk membantu keseharian Anda di rumah, jangan ditolak. Baik keluarga atau teman-teman, yang mungkin siap membantu menjaga dan merawat kesayangan Anda ini. Terima juga segala tawaran dari rumah sakit untuk program-program rehabilitasi medik dan terapi. Apalagi jika hal itu dilakukan pada akhir pekan, atau sepekan sekali. Sebab, selain dapat menguatkan rasa di hati si korban, ia juga akan merasa senang karena mendapat perhatian dari banyak pihak, juga bisa keluar rumah jadi tak bosan. Anda pun berhak mendapatkan hari istirahat, kan?
  • Belajar menerima bahwa kejadian sekarang, adalah proses yang bertahap

    Saat kehidupan seseorang berjalan tak sesuai dengan impian dan harapan, kita akan mendapatkan tantangan untuk menyesuaikan diri dengan "kejadian sekarang", yang merupakan hal baru. Ia mungkin akan mengalami banyak kesulitan dengan melakukan pekerjaan atau kebiasaan-kebiasaan rutinnya. Ia mungkin juga akan kesusahan untuk menerima kenyataan, bahkan kesulitan untuk mengembangkan kemampuannya. Mereka akan mengalami rasa frustasi. Tapi tak hanya mereka, kita juga. Satu-satunya obat untuk kejadian demikian, hanya cinta dan komitmen kita. Juga kapasitas untuk melihat orangnya, dan bukan ketidakmampuannya.

No comments:

Post a Comment